Jas Merah Grafologi !

Istilah “Jas Merah” adalah singkatan dari “jangan sekali-kali merupakan sejarah”. Istilah ini berasal dari isi pidato kenegaraan Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno. Dalam hal mempelajari sejarah suatu ilmu pengetahuan dapat mengetahui asal usul, filosofi, perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan tersebut.

Mempelajari atau mengetahui sejarah suatu ilmu pengetahuan juga menjadi penghargaan dan penghormatan kepada para tokoh ilmu pengetahuan yang menciptakan, mengembangkan dan menyebarluaskannya.

Grafologi (graphology) memiliki sejarah yang telah berumur panjang. Pada tahun 300 M, filsuf Yunani Aristoteles telah menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara tulisan tangan, kata-kata, dan kepribadian. Ia mengatakan “Kata-kata yang diucapkan adalah simbol dari pengalaman mental, sedangkan kata-kata yang ditulis adalah simbol-simbol dari kata-kata yang diucapkan. Sama seperti semua orang yang tidak memiliki suara yang sama, semua orang juga tidak memiliki tulisan tangan yang sama pula.”

Pada abad ke-2 M, C. Suetonius Tranquillus sudah mencatat keunikan dari tulisan tangan Caesar. Pada abad ke-11 M, bangsa Cina juga mencatat hubungan antara tulisan tangan dan kepribadian.

Francois Demelle, seorang berkebangsaan Prancis pertama kali mengenalkan teori yang menyatakan bahwa tulisan tangan merupakan perwujudan dari karakter seseorang. Tahun 1622, Camillo Baldi menulis buku terkait grafologi di Italia dengan judul The Means of Knowing the Habits and Qualities of a Writer from His Letters.  Camillo Baldi adalah doktor Italia di bidang kedokteran dan filsafat serta profesor di Universitas Bologna.

Buku itu berisi penjelasan mengenai kecenderungan individualistik yang diperlihatkan oleh setiap penulis. Namun, istilah grafologi sendiri sampai pada waktu itu belum dikenal atau belum muncul.

Ilmu analisis tulisan tangan, atau grafologi yang formal, muncul dari dua pastor Prancis pada abad ke-19, yaitu Abbe Flandrin dan Abbe Michon. Bersama para siswanya, Abbe Michon membentuk sebuah organisasi profesional, Societe Grapholoqique, untuk mengeksplorasi hubungan antara grafologi dan kepribadian.

Penelitian Abbe Michon mengenai analisis tulisan tangan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1872 dengan judul The Mysteries of Handwriting, kemudian disusul dengan buku yang berjudul A System of Graphology yang masih menjadi bacaan yang disarankan bagi mahasiswa yang ingin menekuni grafologi secara serius.

Berawal dari waktu tersebut dan selanjutnya, minat di bidang grafologi menyebar ke seluruh Eropa. Jadi, perlu dicatat bahwa grafologi berkembang sebelum kelahiran psikologi.

Selama dekade terakhir dari abad ke-19, para psikolog dan psikiatri Jerman menyimpulkan bahwa tulisan tangan  sebenarnya adalah tulisan otak. Kesimpulan tersebut diambil setelah mereka mengobservasi orang yang mengalami cacat ganda sehingga tidak mampu menulis, namun dengan lancarnya membuat tanda tangan dengan menggunakan pena yang digerakkan oleh mulutnya.

Pada abad ke-20, Alfred Binet, pengembang mula-mula dari Tes Inteligensi Stanford-Binet yang dikenal sekarang, telah tertarik dengan analisis tulisan tangan dan memutuskan untuk menjadi grafologis yang profesional.

Pada saat itu, grafologi telah mapan berdiri di Prancis di bawah arahan Jules Crepieuxjamin, dan di Jerman di bawah arahan Ludwig Klages. Klages memperkenalkan gerakan ekspresif untuk menggambarkan gerakan tubuh seperti cara berjalan, berkata, bahasa tubuh, dan tulisan tangan. Ia menitikberatkan bahwa tulisan tangan adalah satu-satunya dari gerakan ini yang dapat dipertahankan untuk pembelajaran saat itu.

Pada tahun 1930, seorang grafologis Inggris, Robert Saudek, menguji gerakan tulisan tangan dengan menggunakan mikroskop, film, dan papan tekanan. Sebanyak 100.000 pria, wanita dan anak-anak dari berbagai negara dipelajari, dan korelasi antara sifat dasar serta gerakan tulisan didokumentasikan.

Pada dekade yang sama, di Harvard University Psychological Clinic, setelah Gordon Allport dan Philip Vernon meneliti pekerjaan laboratorium dengan banyak subjek, mereka mencatat bahwa gerakan-gerakan individual, menulis atau yang lainnya, adalah bersifat konsisten dan dapat juga dianggap sebagai ekspresi pribadi.

Saat ini, penggunaan analisis tulisan tangan tergolong cukup tinggi. Pada tahun 1992, Smith dan Abrahamson meninjau kembali metode seleksi personalia di enam negara Eropa antara 1983 dan 1991 serta menemukan frekuensi penggunaan grafologi yang meningkat untuk seleksi dan promosi karyawan (terutama di Prancis).

Sharma dan Vardhan menyatakan bahwa 85 % orang Eropa dalam memutuskan hasil seleksi juga melibatkan penggunaan grafologi, sementara Klimoski dan Rafaeli menemukan di tahun 1983 bahwa sebanyak 3.000 perusahaan di Amerika Serikat tetap menggunakan analisis tulisan tangan.

Penelitian grafologi terus-menerus dilakukan oleh para penyelidik secara individual dan program-program di bawah arahan bantuan organisasi grafologi profesional seperti American Handwriting Analysis Foundation.

Ada beberapa fakta mengenai grafologi, yaitu 5.000 perusahaan menggunakan grafologi untuk seleksi dan membentuk tim; bisnis di negara-negara Eropa umumnya menggunakan analisis tulisan tangan untuk penggunaan praktis pada karyawan mereka. Di Prancis dan Swiss, bahkan diperkirakan sekitar 80 % perusahaan besar menggunakan grafologi dalam prosedur seleksi.

Di Indonesia minat untuk mempelajari dan menggunakan grafologi mulai semakin tinggi. Saya sendiri merasakan kemudahan dan kepraktisan dalam memanfaatkan grafologi atau analisa tulisan tangan (handwriting analysis) untuk berbagai kebutuhan. Dan melalui sejarah grafologi ini menambah kecintaan saya atau boleh saya katakan cinta lama yang bersemi kembali semakin bertumbuh terhadap grafologi,

Selamat menulis sejarah Anda sendiri dalam sukses dan rahmat Sang Pencipta !

 

salam sukses,

 

Yosandy L. S.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin