Graphology: mistik, pseudo-science atau science?

Membicarakan graphology atau grafologi saat ini sering muncul celetukan-celetukan seperti:

 

“Ramalan tulisan tangan itu kerjaan paranormal!”

“Baca tulisan tangan kan mistik tuh!”

“Grafologi itu ilmu semu bukan sains!”

 

Sama hal ketika hypnosis mulai diajarkan belasan tahun lalu. Celetukan bahwa hypnosis itu syirik, menggunakan jin, kekuatan setan dan sejenisnya bermunculan saat itu. Sama seperti grafologi yang saat ini mulai dikenal masyarakat luas.

 

Celetukan-celetukan seperti itu sayangnya hanya sekedar pernyataan tanpa data yang jelas. Orang-orang yang menganggap grafologi sebagai mistik sebenarnya juga menyatakan kebenaran betapa  ‘saktinya’ dengan ‘baca’ tulisan tangan yang dapat ‘meramalkan’ diri mereka. Mereka takjub dari tulisan tangan dapat mengetahui diri mereka.

 

Mereka juga membahasakan analisa tulisan tangan sebagai ‘baca’ tulisan tangan. Bukan baca dalam arti harafiah sebagai membaca namun lebih kepada makna ‘baca’ sebagai ‘ramalan’. Mereka berpikir grafolog memiliki kekuatan gaib atau kemampuan ‘membaca’ seseorang dari tulisan tangannya. Namun sebagian orang yang pernah bersentuhan dengan ‘pembaca’ tulisan tangan dengan aliran mistik akan semakin menguatkan pendapat bahwa grafologi itu mistik.

 

Pada perkembangan awalnya sekitar tahun 1900-an, ketika grafologi memasuki Perancis dan digunakan oleh kaum gypsi dengan menggabungkan kemampuan meramal mereka sehingga berkembang pendapat bahwa grafologi itu mistik.

 

Sementara pendapat yang menyatakan bahwa grafologi itu pseudo-science ketika tahun 1973 sampai pertengahan 1980-an saat grafologi mulai diperkenalkan di Indonesia. Kurangnya informasi dan refrensi menyebabkan kurangnya data untuk memahami sejarah grafologi. Sedangkan tahun 1980-an mulai booming dengan psikologi dengan tes IQ-nya waktu itu sehingga masyarakat lebih mengenal psikologi dan tes IQ.

 

Dengan berkembangnya teknologi sehingga mudah mengakses informasi, menyebabkan sejarah grafologi yang sebenarnya mulai terkuak. Anda tentu mengenal paranormal sakti bernama Mbah Gugel alias google yang dapat memberikan informasi seluas-luasnya tentang sejarah grafologi.

 

Analisa tulisan tangan terkait dengan kepribadian penulisnya telah melalui perjalanan yang panjang dan tua. Dari jaman Yunani, filsuf terkenal Socrates telah menyatakan adanya hubungan antara tulisan tangan dan watak penulisnya.

 

Filsuf Yunani selanjutnya pada 300 SM, Aristoteles telah menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara tulisan tangan, kata-kata, dan kepribadian. Ia mengatakan “Kata-kata yang diucapkan adalah simbol dari pengalaman mental, sedangkan kata-kata yang ditulis adalah simbol-simbol dari kata-kata yang diucapkan. Sama seperti semua orang yang tidak memiliki suara yang sama, semua orang juga tidak memiliki tulisan tangan yang sama pula.” Pada abad ke-2 M, C. Suetonius Tranquillus sudah mencatat keunikan dari tulisan tangan Caesar.

 

Dari negeri Tiongkok pada tahun 1.000 SM ada tokoh bernama Kuo Jo Hsu menyatakan kemampuannya mengungkap karakter seseorang dari caranya menulis. Tokoh Tiongkok lainnya bernama Konfucius menyatakan, “Hati-hati terhadap seseorang yang tulisannya seperti rumput yang tertiup angin.” Riset yang belakangan dilakukan kelompok grafolog maupun periset dari psikolog/psikiater mengungkap kebenaran kata-kata Konfucius.

 

Pengenalan analisa tulisan tangan secara ilmiah dan riset yang sistematis bermula dari karya Camillo Baldi tahun 1622 berjudul The Means of Knowing the Habits and Qualities of a Writer from His Letters.  Camillo Baldi adalah doktor Italia di bidang kedokteran dan filsafat serta professor filsafat juga dekan di Universitas Bologna. Buku itu berisi penjelasan mengenai kecenderungan individualistik yang diperlihatkan oleh setiap penulis.

 

Ilmu analisis tulisan tangan, atau grafologi yang formal, muncul dari dua pastor Prancis pada abad ke-19, yaitu Abbe Flandrin dan Abbe Michon. Bersama para siswanya, Abbe Michon membentuk sebuah organisasi profesional, Societe Grapholoqique, untuk mengeksplorasi hubungan antara grafologi dan kepribadian. Abbe Michon terbitkan edisi pertama jurnal grafologi pd 8 Nopember 1871.

 

jurnal grapho pada awal

Penelitian Abbe Michon mengenai analisis tulisan tangan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1872 dengan judul The Mysteries of Handwriting, kemudian disusul dengan buku yang berjudul A System of Graphology yang masih menjadi bacaan yang disarankan bagi mahasiswa yang ingin menekuni grafologi secara serius.

 

Tahun 1888, murid Abbe Michon bernama Jean Crepieux-Jamin mempublikasikan karyanya berjudul L’ecriture et le caractere (Handwriting and Character). Dia mengemukakan bahwa tulisan tangan harus dianalisa secara keseluruhan di mana tiap ciri berkontribusi pada keseluruhan analisa. Jean Crepieux-Jamin mendirikan Societe Francais de Graphologie dan semua karyanya diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sejak 1892.

 

Dr. George Meyer menulis jurnal ilmiah tahun 1901 berjudul The Scientific of Graphology dengan fokus bahwa niat seorang penulis selalu terlihat dari awal kata, baris atau kalimat sedangkan teks selanjutnya atau akhir dari baris  menunjukkan pikiran bawah sadar dari penulis.

 

Dari Hungaria ada tokoh grafologi yang bekerja sebagai ahli untuk Pengadilan Kriminal Kerajaan Hungaria bernama Klara Roman. Klara Roman menulis 2 karya penting berjudul Handwriting: A Key to Personality dan Encyclopedia of the Written Word.

 

Pada tahun 1930, seorang grafolog Inggris bernama Robert Saudek menguji gerakan tulisan tangan dengan menggunakan mikroskop, film dan papan tekanan. Sebanyak 100.000 pria, wanita dan anak-anak dari berbagai negara dipelajari dan korelasi antara sifat dasar serta gerakan tulisan didokumentasikan.

 

Bahkan Alfred Binet, pencipta Tes IQ yang booming di Indonesia tahun 80an, saja belajar analisis tulisan tangan dan memutuskan untuk menjadi seorang grafologis profesional.
Stanford Binet

Demikianlah grafologi berkembang dengan berbagai tokoh di Eropa pada masa awalnya sudah menghasilkan ribuan jurnal ilmiah dan buku grafologi pada masa itu awal abad ke-20 grafologi telah mapan. Dengan data ini maka grafologi bukanlah mistik dan pseudo-science melainkan science yang telah melalui riset ilmiah.

7 Responses to Graphology: mistik, pseudo-science atau science?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin