SERIUSkah Wanita yang Bikin Video Poligami Ingin Bunuh Diri?

170431_ana2Minggu belakangan ini, Ana Abdul Hamid sedang hangat menjadi perbincangan di media sosial. Ana menjadi populer berkat video berisi curahan hatinya mengenai poligami di YouTube dan Instagram. Wanita asal Gorontalo itu masuk kuliah di 2007 dan memutuskan menikah pada 2010. Mereka dikaruniai dua anak yang sekarang masih berusia balita.

Setelah menikah, Ana mengatakan harus menjalani long distance relationship (LDR) karena ia melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. Sedangkan Erik yang bertempat tinggal di Makassar pergi ke Gorontalo –kota kelahiran Ana– untuk membangun usaha.

Wanita 26 tahun ini kemudian hidup bersama mertua dan Erik pergi tinggal di rumah orangtua Ana. Saat menjalani LDR, Ana selalu menyempatkan pulang setiap satu bulan sekali untuk menengok suami dan anak-anak. Awalnya hubungan pernikahan jarak jauh mereka baik-baik saja sampai suatu ketika wanita lain hadir di dalam rumah tangganya.


Di awal 2014, Ana masih belum mencium hubungan gelap suaminya dengan wanita lain di Gorontalo. Bahkan ia merasa Erik semakin mesra karena sering memintanya pulang setiap minggu. Ia pun menuruti permintaan sang suami untuk pulang sesering mungkin. Sejak ketahuan selingkuh, keduanya sering bertengkar. Beberapakali Ana mengurung diri di kamar karena tak kuat menghadapi kenyataan hingga akhirnya Erik harus berpoligami di Juni 2014.

Saat diminta persetujuaan secara hukum, Ana mengatakan terpaksa setuju daripada kehilangan suaminya tercinta. Namun setelah dijalani ternyata sangat berat hidup sebagai istri pertama. Meski suami lebih sering bersamanya tapi tak bisa dipungkiri rasa cemburu serta ketidakrelaannya melihat Erik ‘merangkul’ wanita lain di beberapa waktu tertentu.

Setelah 1,4 tahun hidup dipoligami, Ana memutuskan bercerai tepat di ulang tahun pernikahan kelima mereka. Kemudian ia membuat video berisi curahan hatinya dengan warna hitam-putih. Tanpa berbicara, wanita yang dua hari lagi akan melahirkan anak ketiganya itu menuangkan perasaannya lewat rangkaian tulisan untuk Erik. Ia mengatakan setiap ulang tahun pernikahan selalu membuat video kemesraan bersama suami, karena ini menjadi hari perayaan terakhir, Ana membuat video yang berbeda dengan tujuan agar suaminya sadar.

Video itu bagi saya membuka lembaran baru setelah mengajukan gugatan cerai kepada suami. Saya juga mau memberitahu para suami atau calon suami kalau mau poligami jangan hanya berdasarkan nafsu. Pikirkan baik-baik, pikirkan perasaan istri pertama, anak-anak, orangtua, keluarga. Jangan hanya sembarang menggunakan dalil,” tandasnya. Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2015/10/23/141730/3051718/1632/ wanita-yang-bikin-video-poligami-hampir-bunuh-diri-saat-tahu-suami-selingkuh

 

Sebagai  Handwriting Analyst (Analis Tulisan Tangan) atau Graphologist (Grafolog), yang menarik bukanlah kasus poligami Ana tapi tulisan tangan Ana. SERIUSkah Ana menyampaikan “SAYA INGIN MATI SAJA Saat itu…“? Dalam kelas workshop Certification of GraphoBusiness Practitioner maupun Certification Graphologist for Recruitmen/Asssessment dan Certification Graphologist for Credit Analyst, peserta mempelajari tentang ciri bunuh diri (suicidal trait) pada pembahasan materi baseline (garis dasar).

 

Bila peserta workshop melihat ciri bunuh diri (suicidal trait) pada sampel tulisan tangan klien saya yang melakukan percobaan bunuh diri, dalam artikel ini kita dapat melihatnya pada tulisan tangan Ana, wanita yang bikin video poligami. Sampel ini sekaligus menambah dan melengkapi data untuk peserta workshop.

 

Ciri bunuh diri (suicidal trait) pada graphology (grafologi) adalah ciri pada tulisan tangan yang mengungkap keinginan atau percobaan bunuh diri. Bentuknya adalah dalam tulisan tangan paling kanan mengalami patahan pada sebagian katanya. Contoh pada gambar di atas dalam tulisan tangan “SAYA INGIN MATI SAJA Saat itu…”?

 

Dalam kata SAYA, SA nya berada pada baseline/garis dasar lurus sedangkan YA mengalami patah ke bawah. Demikian juga pada kata MATI, MA nya berada pada baseline/garis dasar lurus sedangkan TI mengalami patah ke bawah. Lihat juga kata SAJA, SA nya berada pada baseline/garis dasar lurus sedangkan JA mengalami patah ke bawah. Ciri-ciri ini yang dinamakan suicidal traits atau ciri bunuh diri.

IMG_20151024_044948

 

Suicidal traits atau ciri-ciri bunuh diri pada tulisan tangan Ana begitu kuat pada semua tulisan tangannya saat itu. Pada gambar di atas bagian kiri atas kalimat “Sekarang saya tidak butuh dan tidak peduli komentar orang… Saya hanya akan mengikuti kata hati saya sambil terus memohon petunjuk dari Allah SWI…” Perhatikan kata “tidak”, “tidak peduli”, “hati saya” dan “SWT”; sebagian pada kata-kata tersebut mengalami patahan pada akhir kata. Sobat juga dapat menemukan  suicidal traits atau ciri-ciri bunuh diri pada 3 foto berikutnya, bukan?

 

Dengan begitu banyaknya suicidal traits atau ciri bunuh diri maka analisa tangan menyatakan Ana SERIUS menulis “SAYA INGIN MATI SAJA Saat itu…” dan ini terbukti dalam pernyataan yang dia sampaikan: “Saat pertama tahu mau bunuh diri, sempat ngiris tangan pakai pisau dan sudah benar-benar keiris. Waktu itu saya belum tahu orangnya, perasaan kacau, tertekan, depresi, terpuruk sekali. Saya ingin tahu orangnya tapi suami nggak mau bicara, akhirnya di depan suami saya ambil pisau dan ngiris tangan sendiri.

 

Petunjuk suicidal traits atau ciri-ciri bunuh diri dalam tulisan tangan ini, semoga dapat membantu untuk mengetahui orang-orang di sekeliling Sobat agar terhindar dari terjadinya percobaan bunuh diri dan selanjutnya memberikan bantuan psikologis (konseling).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin