Pedasnya kejujuran yang semakin mahal…

Semalam saya sempat mendengarkan berita malam di salah satu stasiun TV mengenai harga bawang yang turun, namun harga cabai malah naik. Bahkan di beberapa daerah ada yang naik 100 % dari harga Rp 30.000 ,- menjadi Rp 60.000 ,-.

 

Sobat mungkin heran, kok saya yang seorang penulis jadi pemantau harga bawang dan cabe hehehe…

 

Saya bukannya beralih profesi menjadi pemantau harga bawang dan sayur apalagi harga sayur mayur di pasar induk. Berita itu memunculkan asumsi di pikiran saya dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok berhubungan dengan meningkatnya kemiskinan rakyat.

 

Bukan… bukan… saya juga bukan mendadak berambisi menjadi menko perekonomian atau menteri sosial hehehe. Saya cuma menghubungkan harga-harga yang melambung tinggi, daya beli yang rendah, meningkatnya kemiskinan dengan KEJUJURAN.

 

Apa hubungannya? Baik-baik saja kok hehehe…

 

Saya mulai sok berteori seperti pengamat atau politikus bahwa kemiskinan memiliki korelasi dengan rendahnya kejujuran. HAH?  Teori atau asumsi sok tau ini didukung ketika saya melakukan analisa tulisan tangan untuk rekrutmen. Pada posisi-posisi rawan seperti divisi keuangan,kasir, gudang atau posisi lain yang mudah berhubungan dengan penyimpangan seperti satpam, kolektor; analisa tulisan tangan terutama difokuskan untuk mengenali tingkat kejujuran kandidat yang melamar.

 

Nah, hasil dari tes kejujuran (konsep dishonesty traits atau ciri-ciri ketidakjujuran) menunjukkan tingginya ketidakjujuran dari kandidat untuk posisi-posisi level bawah. Bila dihitung-hitung angkanya dapat mencapai di atas 75% kandidat yang tidak jujur dari tulisan tangannya. Saya dengan mudahnya menarik asumsi bahwa banyak sekali kandidat pelamar posisi bawah yang tidak jujur.

Di satu sisi Sobat mungkin mempertanyakan akurasi tes kejujuran ini. Sewaktu saya baru bergabung di perusahaan terakhir saya berkarya, staf saya juga penasaran apakah benar kandidat yang tidak jujur dari tulisan tangan itu benar-benar tidak jujur. Bagi saya yang sudah sering menangani tindak penyimpangan dan pencurian di perusahaan sebelum sudah tidak meragukan lagi tes ini. Ditambah dengan langkanya jumlah kandidat yang memenuhi kualifikasi, tuntutan user agar cepat mengisi posisi kosong dan untuk menjawab penasaran staf saya, saya dan staf saya meloloskan seorang kandidat yang tidak lulus tes kejujuran.

 

Karyawan baru ini diterima sebagai staf toko dan menerima pembayaran dari pembeli. Saya sendiri menduga karyawan baru ini akan menjaga perilakunya selama masa percobaan yaitu 3 bulan. Nyatanya, karyawan baru ini belum mencapai 2 bulan telah berani mengambil uang sekitar 300 ribu. Sejak itu staf saya tidak mau lagi meloloskan kandidat yang tidak lulus tes kejujuran.

 

Kembali pada asumsi sok tau saya tadi. Bulan ini saya memberikan analisa tulisan tangan untuk salah satu klien untuk posisi kolektor dan admin. Kedua posisi ini berhubungan dengan uang yang harus ditangani. Dari puluhan tulisan tangan kandidat yang diserahkan ke saya hanya sekitar 5 yang lolos tes kejujuran. Klien saya bertanya “Pak Yos, apakah jumlah orang-orang yang berada di level bawah yang tidak jujur lebih banyak daripada jumlah di level eksekutif?”

 

Pertanyaan yang menggugah teori sok tau saya tadi, saya jadi teringat ketika merekrut dan melakukan tes untuk posisi eksekutif. Jumlah kandidat eksekutif yang tidak jujur berdasarkan persentase tidak lebih rendah daripada kandidat level bawah yang tidak jujur.

 

Ah, saya jadi berteori lagi. Bahwa kejujuran tidak ada hubungannya dengan kemiskinan. Bahwa masih banyak orang-orang yang miskin secara harta namun tetap kaya secara mental alias jujur. Juga banyaknya orang-orang yang kaya secara harta namun miskin secara mental alias tidak jujur. Pada koruptor itu lho… Sudah materi bermilyar-milyar masih sanggup untuk merampok lebih banyak, bukan?

 

Kejujuran bahkan tidak memiliki korelasi dengan pendidikannya tinggi, kedudukan atau jabatan tinggi, status sosial dan lain-lain. Seseorang bahkan tidak terlihat kejujurannya dari penampilan dan prestasinya. Ketika saya bekerja di salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, ada salah seorang karyawan yang telah bekerja 16 tahun dan sering menjadi karyawan teladan yang mendapat penghargaan (award) dari perusahaan.

 

Karyawan ini juga menjabat koordinator olah raga untuk serikat kerja. Setahun sebelum akhirnya dia di-PHK, saat dia mengajukan klaim pembelian kebutuhan olah raga karyawan dan melihat bon klaim yang dia ajukan, saya telah memperingatkan dia bahwa saya tahu dia lakukan. Setahun kemudian ketika mengajukan bon pembelian melalui staf saya, saya menangkap penyimpangan (mark-up) di bon pembelian. Singkat kisah, karyawan ini akhirnya diproses karena tindak penyimpangannya.

 

Kembali pada harga cabai, tinggi rendahnya harga cabai di pasar semoga tetap mempertahankan tingginya kejujuran Sobat. Sobat yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ciri ketidakjujuran ini (dishonesty traits) dapat mengikuti seminar dan workshop saya. Untuk seminar akan dilaksanakan Sabtu ini, 23 Maret 2013 di Gedung BPPT Jakarta. Silahkan hubungi sms : 08788 222 9433 dengan format GPS (spasi) Nama (spasi) Usia (spasi) Profesi.

 

Terkait tes kejujuran, mungkin Sobat :

  • seorang ayah yang ingin memantau kejujuran anaknya terutama dari bahaya narkoba dan penggunaan uang yang tidak semestinya.
  • seorang ibu yang ingn mengawasi asisten rumah tangga atau driver terhadap penggunaan uang.
  • seorang pimpinan yang ingin mengetahui adakah penyimpangan keuangan dari karyawannya.
  • seorang pengusaha yang ingin mengetahui kejujuran dari mitra bisnis atau calon mitra bisnisnya.
  • seorang kekasih yang ingin membongkar perselingkuhan pasangannya.
  • seorang HRD yang ingin mengungkap karakteristik kandidat karyawan apakah cocok di bidang yang berhubungan dengan uang.
  • dan lain sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

One Response to Pedasnya kejujuran yang semakin mahal…

  • Memang butuh kerja keras untuk mendapatkan orang yang jujur dan disiplin. Para pegawai saya pun sebelum saya terima, harus menjalani psikotes dan talent test lebih dulu untuk melihat potensi dirinya dan kejujurannya. Namun kadang hal itu pun masih belum akurat. Perlu melibatkan ahli Graphology seperti Master Yosandy ini.

    Salam Luar Biasa Prima dari Surabaya.
    Wuryanano

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin