Memaafkan semudah mohon maaf !

Beberapa waktu lagi Sahabat Sukses yang beragama Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Pada hari itu genap sebulan Sahabat Muslim menjalankan puasa  dalam keberkahan, tentu semua mendapat keberlimpahan rahmat. Dan pada Hari Raya, Sahabat Muslim saling bermaaf-maafan.

 

Saya jadi memikirkan konteks memaafkan dan mohon maaf dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia tentu tidak lepas dari salah atau perbuatan yang tidak menyenangkan orang lain. Mungkin disengaja maupun sengaja. Hayo ngaku 🙂  hehehe !

 

Saling memaafkan tentu sesuatu yang indah dan membahagiakan, semoga Anda setuju dengan prinsip ini ! Saling memaafkan dapat berarti melepaskan beban, baik karena berbuat salah maupun beban memikirkan kesalahan orang lain. Bentuk keikhlasan yang melegakan tentunya.

 

Dalam praktek, saling memaafkan tidaklah sederhana bagi sebagian orang. Baik memaafkan maupun mohon maaf menjadi begitu tidak mudah. Orang ini mungkin berpikir dengan memaafkan berarti membenarkan perbuatan orang yang salah. Padahal memaafkan juga dapat bermakna teguran atas suatu kesalahan. Mungkin juga orang ini membiarkan dirinya terluka sehingga belum dapat memaafkan.

 

Bicara mohon maaf sendiri juga suatu hal yang unik. Mohon maaf membutuhkan kebesaran dan kerendahan hati pemohonnya. Tentu ini dapat dilakukan dengan menempatkan egonya di dasar hati, bukan ego di ketinggian hati. Rasa takut pada reaksi pemberi maaf, juga mengurangi kemauan orang yang memohon maaf. Takut dimaki, ditakut dihukum atau hal lainnya. Namun, bukankah setiap perbuatan ada resiko dan memerlukan tanggung jawab pelakunya ?

 

Belum lagi bila kita melihat dua orang saling berbuat salah satu sama lain. Siapa yang perlu memohon maaf terlebih dahulu ? Banyak pertimbangan yang membuat saling mohon maaf dan memaafkan menjadi rumit. Masa saya mohon maaf duluan, kan dia juga salah ? Enak aja mohon maaf, dia aja ga mau mohon maaf juga ?

 

Entah apa prinsip Anda, ada banyak orang yang memaafkan itu sederhana.  Bagi orang-orang ini, hal yang telah terjadi itu telah berlalu. Kesalahan yang terjadi menjadi evaluasi dan peringatan agar tidak terulang lagi di hari ini. Bila berbuat salah pada orang lain, mohon maaf dan memperbaiki diri. Juga menjaga sebaik-baiknya agar tidak mengulang kembali.

 

Bila orang lain yang berbuat salah, segera memaafkan baik orang itu mohon maaf atau tidak. Tentu merugikan membawa beban sepanjang waktu karena perbuatan orang lain atau hanya sekedar memuaskan ego belaka dengan marah atau dendam karena kesalahan orang lain. Beban yang tidak meringankan langkah Anda menuju masa depan yang lebih baik. Yang dibutuhkan hanyalah meletakkan beban itu sehingga langkah Anda bukan saja ringan namun juga semakin mudah dalam rahmat dan keberlimpahan.

 

Mohon maaf dan memaafkan menunjukkan kebesaran dan kerendahan hati Anda. Siapapun Anda, tentu menambah kelebihan Anda menjadi pribadi yang luar biasa dengan perilaku yang rendah hati. Pada bulan yang semakin berkelimpahan rahmat, saya mohon maaf terutama tadi di awal artikel ini saya “tidak sengaja” menuduh Anda. Dari kerendahan hati, saya juga mengucapkan pada semua Sahabat Muslim :

 

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 01 Syawal 1432 H

Minal Aidin Wal Faidzin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin