Kucing yang menunggu tulang-tulang ayam !

Minggu pagi biasanya saya keliling kompleks tempat saya tinggal. Di kompleks saya tinggal banyak tukang jualan makanan. Ada katupek sayur, ada mie ayam jawir, bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning dan lain-lain.

 

Minggu ini cuaca lagi kinyis-kinyis sendu alias mendung. Lagi pengen makan bubur Mbak Yu langganan saya. Buburnya cocok di lidah saya makannya bertemankan sate hati ayam.

Duduk di meja menghadap ke gerobak bubur ayam dan jalanan. Sambil menunggu Mbak Yu membuatkan bubur ayam, saya memandang orang-orang lalu lalang, ada yang berolah raga, ada yang mencari sarapan.

 

Sejenak pandangan saya beralih pada suami Mbak Yu, Mas To yang sedang ‘suwir-suwir’ daging ayam. Di dekat kursi  Mas To ada empat ekor kucing. Ada yang belang putih coklat, ada yg hitam, ada putih dan abu-abu. Kucing-kucing berbadan montok, tidak mengherankan karena banyak makanan yang mereka bisa makan dari penjual makanan.

 

Tiga ekor kucing sedang mengigiti tulang ayam yang diberikan Mas To. Tulang-tulang ayam kecil yang masih ada dagingnya. Seekor lagi yang berbulu abu-abu duduk dengan manisnya menatap Mas To penuh harap. Terlihat sabar menunggu Mas To melemparkan tulang-tulang ayam atau beruntung sedikit daging ayam buatnya. Sementara tiga temannya sedang begitu asyik menikmati sarapan mereka.

 

Mbak Yu meletakkan bubur sarapan di meja, saya mulai sarapan setelah menambahkan sambal dan sedikit kecap manis sembari memperhatikan kucing abu-abu tadi.  Saya bertanya-tanya dalam hati “kok ini kucing tidak merebut tulang ayam temannya ya ?” Padahal kucing itu menunggu cukup lama jatah tulang ayam dari Mas To dan tidak sedikit pun melirik tulang ayam teman-temannya.

 

Mungkinkah ada kesepakatan di antara mereka untuk saling berbagi dan menunggu rejekinya masing-masing ? Bila ya, hal itu tentu luar biasa. Di antara sesama hewan saja dapat bekerja sama, tidak merebut rejeki temannya dan begitu sabar menunggu bagiannya.

 

Sementara manusia banyak yang saling sikut-sikutan. Di antara sesama karyawan saling menjatuhkan demi karir. Demikian juga kasus korupsi yang terjadi yang muncul karena keserakahan manusia. Bila dibandingkan dengan empat ekor kucing tadi, perbuatan manusia yang sebegitu tentu mengherankan.

 

Entah manusia menyakini Tuhan di tataran mana dalam dirinya. Bukankah Tuhan telah menentukan rejeki dan hukum-hukumnya. Tuhan tidak membuat hukum rejeki bahwa siapa yang merebut akan mendapatkan banyak, siapa yang mengambil haknya akan berkelimpahan. TIDAK !

 

Tuhan menentukan hukum rejeki bahwa siapa saja yang memberi maka akan dilipatgandakan, siapa yang serakah pada akhirnya akan selalu kekurangan. Pelajaran berharga yang ditunjukkan empat kucing tadi dan akhirnya kucing abu-abu bahagia mendapatkan tulang-tulang ayam dari Mas To. Nikmatnya kesabaran untuk tidak merebut hak dari sesamanya namun mendapatkan rejeki sesuai hak dan usahanya.

 

One Response to Kucing yang menunggu tulang-tulang ayam !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin