Kecewa ….. ? Salah siapa ?

Dalam kehidupan, mungkin seseorang mengalami kekecewaan. Dari kekecewaan tersebut, seseorang ada yang bersikap menyalahkan orang lain, ada juga yang menyalahkan diri sendiri.

 

Yang menyalahkan orang lain dapat berkembang menjadi kesal, marah bahkan dendam kepada orang lain. Orang ini menjadikan orang lain sebagai penyebab kekecewaan yang dia alami. Orang ini menempatkan  dirinya menjadi korban atau obyek dari perbuatan lain. Orang lain bertanggung jawab atas rasa kecewa yang muncul pada dirinya.

Sebaliknya yang menyalahkan diri sendiri juga dapat berkembang menjadi kesal, marah atau masuk dalam penyesalan yang mendalam. Orang ini merasa menjadi penyebab sekaligus korban kekecewaan yang dialaminya.

 

Kedua sikap ini lebih banyak merugikan daripada memberdayakan. Apa yang diperoleh dengan menyalahkan orang lain ? Apa untungnya menyalahkan diri sendiri ?

 

Tidakkah lebih baik memilih dengan menjadikan kondisi yang mengecewakan sebagai pembelajaran ?  Kecewa muncul karena tidak terpenuhinya harapan. Semakin besar harapan yang tidak terpenuhi semakin besar kecewa yang timbul.

 

Mungkin harapan pada sikap baik orang lain, mungkin harapan pada pencapain tujuan. Menyalahkan orang lain maupun diri sendiri, tidak membuat harapan tersebut akan menjadi kenyataan.

 

Bukankah lebih bermanfaat evaluasi  dan bertindak lebih baik ke depannya ? Toh apapun yang terjadi sebelumnya tak dapat diubah. Anda dapat menyiapkan diri semakin baik ke depan. Termasuk juga menyiapkan pola pikir. Misalnya idealnya perbuatan baik akan dibalas dengan perbuatan baik. Dalam kenyataannya hal ini tidak selalu berlangsung seperti itu.

 

Kita perlu menyadari kenyataan bahwa perbuatan baik mungkin saja dibalas dengan perbuatan tidak baik. Ada pepatah mengatakan “air susu dibalas dengan air tuba “. Kenyataan juga menunjukkan perbuatan baik tidak mendapatkan balasan apa-apa.

 

Manusiawi bila seseorang mengharapkan kondisi ideal. Seperti contoh tadi berharap perbuatan baik akan dibalas dengan perbuatan baik. Namun bila Anda siap dengan kondisi yang tidak ideal akan membantu mengurangi atau menghilangkan rasa kecewa. Bahwa mungkin saja perbuatan baik tidak ada balasan apa-apa, mungkin juga mendapat balasan yang tidak baik juga.

 

Perbuatan baik tetaplah perbuatan baik. Bahwa kenyataan perbuatan baik tidak selalu mendatangkan kebaikan tidak berarti Anda perlu menghindari perbuatan baik. Perbuatan baik adalah baik,  terlepas dibalas atau tidak, karena akan menjadi karakter Anda yang  positif. Lakukan karena memang perlu dilakukan, bukan karena mengharapkan balasan.

 

Lagipula balasan terutama sejatinya adalah dari Sang Maha Pencipta. Dia yang mengetahui ukuran tepat kebaikan yang Anda lakukan. Keberlimpahan dari Sang Maha Pencipta yang pasti menjadi balasan atas perbuatan baik Anda ! Sudah hukum yang Dia tetapkan  bahwa kebaikan akan dilipat gandakan bagi siapa saja yang melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin