motivASIH & provoKASIH

motivASIH & provoKASIH

Page 1 of 1612345...10...Last »

SERIUSkah Wanita yang Bikin Video Poligami Ingin Bunuh Diri?

170431_ana2Minggu belakangan ini, Ana Abdul Hamid sedang hangat menjadi perbincangan di media sosial. Ana menjadi populer berkat video berisi curahan hatinya mengenai poligami di YouTube dan Instagram. Wanita asal Gorontalo itu masuk kuliah di 2007 dan memutuskan menikah pada 2010. Mereka dikaruniai dua anak yang sekarang masih berusia balita.

Setelah menikah, Ana mengatakan harus menjalani long distance relationship (LDR) karena ia melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. Sedangkan Erik yang bertempat tinggal di Makassar pergi ke Gorontalo –kota kelahiran Ana– untuk membangun usaha.

Wanita 26 tahun ini kemudian hidup bersama mertua dan Erik pergi tinggal di rumah orangtua Ana. Saat menjalani LDR, Ana selalu menyempatkan pulang setiap satu bulan sekali untuk menengok suami dan anak-anak. Awalnya hubungan pernikahan jarak jauh mereka baik-baik saja sampai suatu ketika wanita lain hadir di dalam rumah tangganya.

Continue reading

Percayalah… Menulis Belum Kalah Pamor Dibandingkan Mengetik!

Kompasiana 23 Oktober 2015KOMPAS.com – Kebiasaan menulis tangan mulai tergantikan dengan pola mengetik di zaman sekarang. Tak bisa dimungkiri, mengetik dirasa lebih praktis oleh generasi masa kini.

Kelebihan dari proses mengetik itu pun diamini oleh ahli pendidikan di Finlandia. Seperti dilansir The Guardian, mulai 2016 nanti pelajaran menulis indah akan diganti kemampuan mengetik dengan keyboard.

Revolusi menulis pun kini semakin terasa. Meskipun sebenarnya, baik menulis atau mengetik punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya dapat saling mempengaruhi kehidupan Anda dari berbagai sisi. Berikut ini beberapa alasannya:

Continue reading

Mungkinkah membangun Corporate Training yang berdampak meningkatkan produktivitas a.k.a performance, penjualan dan keuangan secara signifikan?

investasi trainingBudget training: cost atau investasi?

 

Perusahaan yang sadar akan pengembangan diri karyawannya ingin membangun system training yang efektif. Sebaliknya masih banyak perusahaan yang tidak peduli tentang pelatihan bagi pekerjanya.

Perusahaan seperti ini dengan gagahnya menamakan departemen yang mengurusi karyawannya dengan Human Resource. Namun para  di perusahaan ini menolak prinsip pengembangan diri karyawan yang katanya (baru dianggap lho…) sebagai sumber daya atau resource. Di kepala boss ini berpikir “Para pekerja direkrut untuk bekerja, bukan untuk belajar!” Mereka lebih suka melakukan pengembangan pada resource lain seperti uang, mesin dan asset yang langsung terlihat buah pengembangannya.

Bagaimana dengan perusahaan yang sadar bahwa karyawan adalah resource atau capital yang penting untuk di-develop? Top Management perusahaan seperti ini meyakini kemajuan perusahaan dipengaruhi kemajuan setiap sumber daya manusia di dalamnya. Salah satu jalan adalah membangun Divisi Corporate Training yang ideal baik secara  maupun budget.

Continue reading

Page 1 of 1612345...10...Last »

New BEST SELLER Book

Archives

My TimeLine with Love

Linkedin